Penjelasan Singkat Peraturan Kepala BPN No 5 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pendayagunaan Tanah Negara Bekas Tanah Terlantar


Penjelasan Peraturan Kepala BPN  No 5 Tahun 2011

tentang Tata Cara Pendayagunaan  Tanah Negara Bekas Tanah Terlantar

Berdasarkan PP No 11 Tahun 2010 tentang Penerbitan dan Pendayagunaan tanah terlantar, sebagai tindak lanjut dari peraturan itu maka dikeluarkan oleh BPN Peraturan Kepala BPN yang baru, PERKABAN 5 2011 yang ditujukan sebagai pedoman dalam melakukan Penerbitan Tanah Terlantar yang dilaksanakan oleh Jajaran BPN di seluruh Indonesia. Peraturan ini berisi tentang :

  1. Pembentukan sebuah unit kerja yang diberi nama Tim Nasional yang mempunyai tupoksi membantu Kepala BPN RI untuk mengurus dan mengelola TCUN (Tanah Cadangan Umum Negara), TCUN ini adalah tanah negara bekas tanah terlantar yang sudah masuk dalam database Tim.
  2. Tata Cara Pendayagunaan TCUN yang meliputi:
    1. Ketersediaan TCUN
    2. Kepastian objek TCUN
    3. Pengamanan TCUN
    4. Pengaturan dan Peruntukan TCUN
    5. Basis Data yang dipakai
    6. Pengawasan dan Pengendalian TCUN
    7. Pelaporan
    8. dan Biaya
    9. Lampiran yang diperlukan untuk mengelola TCUn (6 lampiran)

Tanah Cadangan Umum Nasional (TCUN) adalah tanah Negara bekas Tanah terlantar yang telah ditetapkan  berdasarkan PP Nomor 11 Tahun 2010 dan Peraturan Kepala BPN Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pendayagunaan Tanah Terlantar, TCUN ini dikelola oleh Tim Nasional yang dibentuk oleh Kepala BPN RI, Adapun syarat-syarat dari PengelolaanTCUN ini adalah ;

-          Tidak dalam Objek sengketa (baik sengketa fisik ataupun sengketa yuridis)

-          Telah diamankan kondisi tanahnya baik itu secara administrasi maupun fisik setelah tanah itu dinyatakan terlantar (kewajiban pemeliharaan ini ada pada Kepala Kantor Pertanahan).

-          Tanah dialokasikan secara nasional

-          Kesesuaian tanah daya dukung wilayah yang tidak bertentangan dengan RTRW

-          TCUN hanya dikelola berdasarkan pertimbangan Tim Nasional yang dibentuk oleh Kepala BPN RI

-          Peruntukan TCUN ini tidak boleh untuk Bekas Pemegang hak tanah yang lalu atau yang mempunyai hubungan hukum dengannnya.

berikut link Peraturannya silahkan sedot gan :D

Peraturan Kepala BPN No. 5 Tahun 2011

Hidup adalah sebuah Cerita


Setiap hari hidup ini ditulis,
Hidup seperti sebuah cerita, kita adalah karakter di dalamnya, kita harus memainkan peran kita sendiri.

Semua hari (seperti adegan) ditulis, jadi satu-satunya hal yang harus kita lakukan adalah kita harus dapat bermain dengan mengambil bagian dari peran itu, Kita harus menjalani setiap hari dengan banyak kesabaran dan keberanian dan berpikir untuk esok yang lebih baik.

Pada waktu yang sama harus ada anggapan untuk mewujudkan hari ini lebih baik dari kemarin, dan
kita dapat menikmati hidup ketika kesempatan itu  datang,

Esok adalah seperti Matahari Bersinar, Hari ini adalah seperti Bulan Purnama dan Kemarin adalah Malam yang Gelap.

Beberapa Istilah Dan Pengertian Tanah di BPN


Beberapa Istilah Dan Pengertian Tanah

Tanah dan Pengertiannya

Dalam kehidupan sehari – hari semua manusia di bumi ini selalu berhubungan dengan tanah. Tanah tempat mereka berpijak, memetik hasil dari tanaman yang di tanam dan juga mengambil kekayaan yang di dikandung dalam tanah. Tanah merupakan istilah yang menimbulkan beberapa pendapat, bahkan ada yang menyebut dengan sebutan agraria, sedangkan antara istilah tanah dan agraria adalah sesuatu yang berbeda.Ada beberapa pendapat mengenai pengertian tanah dan agraria ini.

Istilah Agraria  berasal dari kata Akker (Bahasa Belanda), Agros (Bahasa Yunani) berarti tanah pertanian, Angger (Bahasa Latin) berarti tanah, Agrarius (Bahasa Latin) berarti perladangan, persawahan, Agrarian (Bahasa Inggris) berarti tanah untuk pertanian.

Urip Santoso mengemukakan pendapat bahwa pengertian Agraria juga sering dikaitkan dengan corak kehidupan  suatu masyarakat atau bangsa, misalnya Indonesia sebagai Negara agraris, yaitu suatu  bangsa yang sebagaian besar masyarakatnya hidup dari bercocok tanam (bertani) atau kehidupan masyarakatnya bertumpu pada sektor pertanian. Agraris sebagai kata sifat dipergunakan untuk membedakan corak kehidupan masyarakat pedesaan yang bertumpu pada sektor pertanian dengan  corak kehidupan masyarakat perkotaan yang bertumpu pada sektor non pertanian (perdagangan, industri, birokrasi)[1].

Di Indonesia, kalangan cerdik pandai dan pejabat penegak hukum umumnya kurang menyadari perbedaan  konsep filosofis itu sehingga timbulnya kerancuan serta cara mempertahankan antara hak tanah dengan hak agraria (Herman Soesangobeng[2]). Contoh nyata dari kerancuan itu adalah pengalaman berabad – abad diIndonesia  pada masa penjajahan  Inggris dan Belanda, dimana hak eigendom  sebagai hak milik mutlak atas tanah, hanya dipunyai oleh negara dan penduduk Eropa serta Timur Asing. Adapun penduduk Bumi Putra, hanya mempunyai hak agraria berupa kewenangan mengolah sebagai penggarap tanah milik negara (staatsdomein), serta persekutuan hukum  masyarakat adat pun tidak memiliki  hak atas tanah. Karena itu, usaha menjelaskan filosofis arti tanah dan agraria sangat diperlukan.

Dalam hukum civil seperti yang dirangkum dalam kodifikasi hukum  Belanda menjadi Burgelijk Wetbook (BW)[3], perbedaan hak tanah dan hak agraria  itupun dikenal, dimana hubungan agrarianya diatur berdasarkan hukum perjanjian. Kitab Undang – Undang BW itu berdasarkan asas konkordasi, juga berlaku untuk Hindia Belanda  dengan nama KUHP-Indonesia. Tetapi ia hanya berlaku bagi golongan penduduk Eropah serta Timur Asing, dan kemudian  juga kepada orang Bumi Putra yang sudah berstatus  hukum dipersamakan (gelijkgesteld) dengan orang Belanda.

Dalam KUHP-Indonesia[4], filosofi ini mengutamakan perlindungan atas hak eigendom[5] sebagai hak milik mutlak atas tanah, yang bisa dipunyai oleh subyek hukum (rechtssubjecten) baik berupa Negara, masyarakat, maupun perorangan. Sedangkan hak agraria merupakan kewenangan bertindak dan kewajiban subyek hukum dalam mengelola tanah.

Menurut Soebekti dan R. Tjitrosoedibio, Hukum agraria (Agrarisch Recht), adalah keseluruhan dari ketentuan – ketentuan hukum, baik Hukum Perdata, maupun Hukum Tata Negara (Staatsrecht) maupun pula Hukum Tata Usaha Negara (Administratifrecht) yang mengatur  hubungan – hubungan antara orang termasuk badan hukum dengan bumi air dan ruang  angkasa dalam seluruh  wilayah negara  dan mengatur pula wewenang – wewenang yang bersumber  pada hubungan – hubungan tersebut.

Dalam ruang lingkup agraria[6], tanah merupakan bagian dari bumi, tanah yang dimaksudkan disini bukan mengatur tanah dalam segala aspeknya, yaitu tanah dalam pengertian yuridis yang disebut hak. Tanah sebagai bagian dalam Pasal 4 ayat (1) UUPA, yaitu “Atas dasar hak menguasai dari Negara sebagai dimaksud  dalm Pasal 2 ditentukan adanya macam – macam hak atas permukaan bumi, yang disebut  tanah, yang diberikan kepada dan dipunyai oleh orang – orang, baik sendiri maupun bersama – sama  dengan orang –orang lain  serta badan – badan hukum”.

Objek hukum tanah adalah hak penguasaan atas tanah. Yang dimaksud dengan penguasaan atas tanah adalah hak  yang berisi serangkaian wewenang, kewajiban, dan atau larangan bagi pemegang haknya  untuk berbuat sesuatu mengenai tanah yang dihaki. Sesuatu yang boleh, wajib atau dilarang, untuk diperbuat, yang merupakan isi hak penguasaan itulah yang menjadi kriteria atau tolok ukur pembeda diantara hak – hak penguasaan atas tanah yang diatur dalam hukum tanah. Hukum Tanah adalah keseluruhan ketentuan – ketentuan hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis, yang semuanya mempunyai objek pengaturan yang sama yaitu hak – hak penguasaan atas tanah  sebagai lembaga – lembaga  hukum  dan sebagai hubungan hukum yang kongkret, beraspek publik dan privat, yang dapat disusun dan dipelajari secara sistematis, hingga keseluruhannya menjadi satu kesatuan yang merupakan satu sistem[7].

Dengan pemakaian  sebutan agraria dalam arti yang demikian luasnya maka dalam pengertian UUPA Hukum Agraria bukan hanya satu perangkat bidang hukum. Menurut Prof Boedi Harsono[8] hukum Agraria merupakan suatu kelompok berbagai bidang hukum, yang masing – masing  mengatur hak – hak penguasaan atas sumber – sumber daya alam tertentu yang termasuk pengertian agraria. Kelompok tersebut terdiri atas :

  1. Hukum Tanah, yang mengatur  hak – hak penguasaan atas tanah, dalam arti permukaan bumi;
  2. Hukum Air, yang mengatur hak – hak penguasaan  atas air;
  3. Hukum Pertambangan yang mengatur  hak – hak penguasaan  atas bahan – bahan  galian yang dimaksudkan  oleh UU Pokok Pertambangan;
  4. Hukum Perikanan yang mengatur hak – hak  penguasaan atas kekayaan alam yang terkandung di dalam air;
  5. Hukum Penguasaan Atas Tenaga dan Unsur – Unsur  Dalam Ruang Angkasa (bukan “Space Law”), mengatur hak – hak penguasaan tenaga dan unsur – unsur dalam ruang angkasa yang dimaksudkan oleh Pasal 48 UUPA[9].

Di Indonesia ada beberapa pengertian dan istilah – istilah tanah yang di kenal, istilah  tersebut ada dan berlaku diIndonesia.

Tanah adalah (a) tanah yang langsung dikuasai oleh Negara, (b) tanah yang tidak termasuk huruf a  yang dipunyai dengan sesuatu hak oleh perseorangan atau badan hukum. Dalam UU No. 51 PRP/1960 yang berhak pada tanah yang langsung dikuasai oleh negara adalah Menteri Agraria atau pejabat yang ditunjuknya dan yang berhak atas tanah pada huruf b adalah  orang  atau badan hukum  yang berhak atas tanah itu.

Tanah bersama adalah sebidang tanah yang digunakan atas dasar hak secara bersama  secara  tidak berpisah yang diatasnya berdiri rumah susun dan ditetapkan batasnya dengan persyaratan ijin bangunan.

Tanah Ulayat, adalah tanah masyarakat hukum adat  yang tidak mengandung unsur pemilikan perorangan[10]. Hak Ulayat adalah hak yang dipunyai masyarakat  adat untuk menguasai dan membuka tanah yang berada di dalam wilayah masyarakat hukum adat itu. Sikap pemerintah terhadap  hak ulayat masyarakat adat, pemerintah mengakui adanya hak ulayat  ini dalam  masyarakat adat, bahkan dijamin pelaksanannya di dalam Undang – undang Pokok Agraria, khususnya diatur dalam pasal 3[11] dan pasal 5[12].Pelaksanaan hak ulayat sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan Undang – undang  dan peraturan yang lebih tinggi, masih diakui eksistensinya dan pelaksanannya[13].

Tanah Negara adalah tanah yang dikuasai oleh Negara karena tidak ada pemiliknya. Pengelolaan tanah Negara ini sepenuhnya berada pada Negara.

Tanah industri (pedesaan) adalah tanah areal yang digunakan untuk kegiatan ekonomi berupa proses pengolahan bahan – bahanbakumenjadi barang jadi/setengah jadi dan atau setengah jadi menjadi barang jadi. Tanah industri (perkotaan) adalah bidang – bidang tanah yang digunakan untuk suatu kegiatan ekonomi berupa proses pengolahan bahan – bahanbakumenjadi barang jadi / setengah jadi dan atau bidang – bidang yang digunakan bagi penyimpanan  barang.

Tanah jasa adalah tanah bidang – bidang tanah yang digunakan untuk suatu  kegiatan pelayanan social dan budaya bagi masyarakatkotayang dilaksanakan oleh badan dan atau organisasi kemasyarakatan, pemerintah maupun swasta  yang menitik beratkan  kegiatan bertujuan untuk pelayanan non komersial.

Tanah Absente adalah tanah yang letaknya berjauhan dengan pemiliknya, pemerintah melarang adanya tanah absente ini karena dikhawatirkan akan menjadi  tanah terlantar atau kurang produktif karena pemiliknya jauh. Namun tanah absente masih dapat diselamatkan dengan cara ; (1) tanah tersebut di jual, (2) ditukarkan kepada masyarakat setempat, (3) salah satu anggota keluarga tinggal ditempat tersebut, (4) diberikan kepada masyarakat sebagai wakaf atau hibah.

Tanah bengkok adalah tanah yang merupakan suatu insentif yang di berikan  kepada  kepala desa atau juga merupakan gaji pegawai yang berupa tanah. Selama menjabat mereka boleh menikmati hasil dari tanah tersebut dan setelah masa jabatannya berakhir tanah tersebut dikembalikan dan tidak boleh diperjual belikan.

Tanah wedi kengser adalah tanah yang berada di bawah penguasaan Negara yang terdapat disepanjang aliran sungai, dan pemanfaatannya dapat berubah – ubah sesuai dengan situasi dan kondisi perubahan alam.

Tanah Pertikelir, adalah tanah  – tanah eigendom yang mempunyai corak – corak istimewa, karena tanah partikelir tersebut dipertuankan diIndonesia. Menurut B.F Sihombing setelah bangsaIndonesiamerdeka, tanah – tanah partikelir yang sebagian besar dimiliki oleh badan – badan hukum asing yaitu :

  1. Hak Erpacht[14] untuk perusahaan kebun besar seluas lebih dari 1 juta hektar;
  2. Hak Konsesi[15] untuk perusahaan kebun besar seluas lebih dari 1 juta hektar;
  3. Hak eigendom, hak erpacht untuk perumahan atas kurang lebih dari 200.000 bidang.

Pada tahun 1958 oleh Menteri Agraria Soenarjo dikeluarkan Undang – Undang No. 1 Th. 1958 tentang penghapusan tanah – tanah partikelir atas tanahnya beserta hak – hak pertuanannya hapus dan tanah – tanahnya menjadi tanah – tanah negara. Pada waktu pemerintahan Hindia Belanda, tanah – tanah partikelir yang dibeli oleh pemerintah menurut Staatblad 1913 No. 702 jo Staatblad 1976 No. 421 maka :

  1. Tanah – tanah usaha yang dimiliki orang – orangIndonesiaasli menjadi hak milik.
  2. Yang dimiliki oleh orang – orang Timur Asing (Tionghoa dan Arab) karena hukum menjadi tanah yang dihaki dengan apa yang disebut Altijddurende Erpacht dan sejak tahun 1926 menjadi Landerijnbezitrech.


[1]  Urip Santoso, Hukum Agraria dan Hak – Hak  Atas Tanah, Kencana Jakarta 2005 hal 5

[2] Herman  Soesangobeng, Sinkronisasi Peraturan Perundang – Undangan  Mengenai Pengelolaan Sumber Daya  Alam, Makalah disajikan pada seminar Pertanahan Nasional 2002 Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional di Yogyakarta 16 Juli 2002

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] hak eigendom adalah hak seperti yang dimaksud pasal 570 KUHPer yaitu hak milik adalah hak untuk menikmati kegunaan sesuatu kebendaan dengan leluasa dan untuk berbuat bebas terhadap kebendaan itu dengan kedaulatan sepenuhnya asal tidak bersalahan dengan Undang – Undang atau peraturan umum yang ditetapkan oleh suatu kekuasaan yang berhak menetapkannya, dan tidak mengganggu hak – hak orang lain; kesemuanya itu dengan tak mengurangi kemungkinan akan pencabutan hak itu demi kepentingan umum berdasar  atas ketentuan Undang – Undang dan dengan pembayaran ganti rugi.

[6] Urip Santoso, Hukum Agraria.Op.Cit hal 10

[7]  Ibid hal 11

[8] Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentukan Undang – Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jilid 1 Hukum Tanah Nasional, Penerbit Djambatan edisi Revisi 1999 hal 8

[9]  Pasal 48 UUPA

(1)           Hak Guna Ruang Angkasa  memberi wewenang untuk mempergunakan  tenaga  dan unsur – unsur dalam ruang angkasa guna usaha – usaha memelihara dan memperkembangkan kesuburan bumi, air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dan hal – hal lainnya yang bersangkutan dengan itu.

(2)     Hak guna ruang angkasa  diatur dengan Peraturan Pemerintah.

[10]  Peraturan Menteri Agraria No 1/1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keputusan Presiden RI No 55 Tahun 1993 Tentang  Pengadaan Tanah bagi  Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan  Umum Pasal 1 huruf f)

[11] Pasal 3 UUPA :

“Dengan mengingat  ketentuan – ketentuan dalam Pasal 1 dan 2  pelaksanaan hak ulayat dan hak – hak yang serupa itu dari masyarakat – masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan  bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan Undang – undang dan peraturan – peraturan lain yang lebih tinggi”

[12] Pasal 5 UUPA

“ Hukum agraria  yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan  atas persatuan bangsa, dengan sosialisme  Indonesia serta dengan peraturan – peraturan yang tercantum dalam Undang – undang ini dan dengan peraturan perundangan lainnya, segala sesuatu dengan mengindahkan unsur – unsur  yang bersandar pada hukum agama

[13] Benyamin Asri, Thabrani Asri, Tanya Jawab Pokok – pokok Hukum Perdata dan Hukum Agraria, CV Armiko Bandung, 1987125 – 126

[14] Hak Erpacht adalah hak menyewa sampai 75 tahun

[15] Hak Konsesi sekarang menjadi Hak Guna Usaha

PLTN dan Masalah Klasik Energi Nasional


PLTN dan Masalah Klasik Energi Nasional (Sebuah Refleksi)

Terlalu miskin kalau kita berfikir PLTN hanya untuk mengatasi masalah klasik energi nasional, banyak hal yg bisa di lakukan dg berdirinya PLTN, ribuan riset ilmu pengetahuan dan teknologi bisa di mulai dr situ, sebagai contoh di Eropa khusus nya “CERN” yg boleh di katakan sebagai pusat penelitian Nuklir sejagat raya telah melakuakn riset pengembangan reactor fusi ,reactor yang punya 0 % radiasi, simple, murah , tidak ribet tahan lama dan menghasil kan energi yang luar biasa berlipat2 dari PLTN, Namun yg jadi masalah adalah untuk menemukan teknologi yg luar biasa ini di perlukan Energi yg luar biasa pula Sains ini berkembang setelah muncul nya teori antimateri yg di ilhami dari teori simetrifitas. Lalu apakah Indonesia hanya mengukuh kan diri nya hanya sebagai penonton dalam pengembangan teknologi dan sains ini..jawaban nya tergantung anda2 semua…, kalau benar kita hanya ingin menjadi penonton saja,,”Stop” mari kita batal kan pembangunan PLTN, Karena sains dan teknologi tidak akan berkembang tanpa ketersedian energy…Belum lagi pengembangan teknologi di bidang pangan, kesehatan dan lain2.

Saya sangat..sangat,,sangat ,,menghargai ide2 cemerlang dari temen2 yg kontra PLTN..dengan ide2 pengembangan energy dari sumber energy alternative yg lain…seperti cangkang sawit, buah jarak, atau mungkin buah2an yg lain…tp saya ragukan untuk 50-100 tahun kedepan apa masih ada tanah untuk menanam jarak dan sawit,???( “ape agik di bangkak ne”= Apa lagi di pulau Bangka ini_red) atau apakah jarak dan sawit masih mau hidup??? Menurut logika sederhana untuk jangka panjang hal ini tidak berbanding lurus dimana

” Manusia bertambah banyak=Lahan untuk hidup semakin luas(Pemukiman)= Kebutuhan energy meningkat= Lahan untuk Perkebunan akan mengecil” di mana kita akan menanam jarak dan sawit untuk meningkatkan produksi energy…???.

Untuk jangka pendek hal itu ‘MUNGKIN” tp saya ragukan utuk jangka panjang, pertanyaan nya apakah setelah krisis energy itu benar2 terjadi Indonesia baru akan mulai belajar PLTN????, maka dari itu saya coba membalik kan pemikiran yg selama ini berlaku “Bahwa PLTN di bangun sesungguh nya untuk kepentingan Anak cucu kita nanti” jd jangan mengatas namakan anak cucu kalau yg kita pikirkan hanya 10-20 tahun kedepan .
“Fukushima”..ini adalah kata2 yg sedang trend di gunakan kelompok kontra PLTN untuk menolak ke beradaan PLTN, lalu apakah hal ini membuat yg pro PLTN akan berhenti meng”kampanye”kan PLTN, ?? saya sangat yakin ini tidak akan membuat surut semangat teman2 yg proPLTN, saya sangat yakin temen2 akan terus berjuang dan berjuang, ingat karena anda adalah orang yg telah berani menempatkan diri anda di tengah tengah arus yg kuat tentang opini,definisi, dan cara pandang yg berbeda,,yakinlah anda adalah orang yg”terpilih”untuk mengawal teknologi masa depan ini,tetap tanamkan semangat itu jgn pernah mundur!!!.. untuk teman2ku yg pro-PLTN apa yg bisa kita ambil dari Fukushima???setidak nya ada dua hal penting :

  1. Kita tidak sendiri di dunia ini, Masalah PLTN adalah masalah Dunia bukan masalah Bangka atau Indonesia saja,PLTN tidaka kan berdiri tanpa dukungan dunia internasional, pemerintah berani mendirikan PLTN bearti telah mendapatkan dukungan dari dunia internasional dan mengapa kita harus takut dengan tudingan negative sekelompok orang saja????
  2. Memang agak sedikit kejam” tapi tragedy Fukushima adalah simulasi terbesar tentang kemungkinan terburuk dari kecelakaan sebuah PLTN” dari situ akan di dapat kan begitu banyak pelajaran tentang penyempurnaan, penanganan, serta Pengembangan PLTN yang lebih Sempurna,,

Bukankah Pengalaman adalah Guru Terbaik???

Instruksi Presiden No 10 Tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru Dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer Dan Lahan Gambut dan Implikasinya terhadap Kebijakan Pertanahan yang diambil oleh BPN RI


Oleh Sarman P. Sagala , SE

Kebijakan Penundaan Penggunaan Kawasan Hutan di Indonesia selam 2 (dua) tahun, yang akhirnya keluar ini adalah efek dari kesepakatan Moratorium Hutan yang digalang oleh Pemerintah RI dengan pihak Swedia yang akan melakukan penundaan pemberian hak terhadap kawasan Hutan (baca tulisan saya sebelumnya), adapun yang termasuk kawasan hutan dalam Inpres ini mungkin adalah kawasan hutan yang ada dalam SK Menhut NOMOR : SK. 101/Menhut-II/2004 pada ayat (3) huruf a adalah hutan alam yang pada areal-areal yang memiliki kriteria sebagai berikut:

1. Kawasan hutan yang mempunyai kelerengan, kepekaan jenis tanah dan intensitas hujan dengan skoring sama dengan dan atau lebih besar dari 175 sesuai Keputusan Menteri Pertanian Nomor 837/Kpts/Um/II/1980 tentang Kriteria dan tata Cara Penetapan Hutan Lindung.

2. Kawasan hutan dengan kelerengan lebih dari 40% dan atau dengan kelerengan lebih dari 15% untuk tanah yang sangat peka terhadap erosi.

3. Kawasan hutan dengan ketinggian sama dengan atau lebih besar dari 2.000 (dua ribu) meter dari permukaan laut.

4. Kawasan hutan bergambut di hulu sungai dan rawa dengan ketebalan lebih dari 3 (tiga) meter.

5. Kawasan hutan dengan radius atau jarak sampai dengan: 1. 500 (lima ratus) meter dari tepi waduk atau danau; 2. 200 (dua ratus) meter dari tepi mata air dan kiri kanan sungai di daerah rawa; 3. 100 (seratus) meter dari kiri kanan tepi sungai; 4. 50 (lima puluh) meter dari kiri kanan tepi anak sungai; 5. 2 (dua) kali kedalaman jurang dari tepi jurang; 6)30 (seratus tiga puluh) kali selisih pasang tertinggi dan pasang terendah dari tepi pantai.

6. Buffer zone atau kawasan penyangga hutan lindung dan atau kawasan hutan konservasi.

7. Kawasan pelestarian plasma nutfah.

8. Kawasan perlindungan satwa liar.

9. Kawasan cagar budaya dan atau ilmu pengetahuan.

10. Kawasan rawan terhadap bencana alam.

Maksud dari Keluarnya kebijakan ini adalah agar BPN RI turut serta dalam menyeimbangkan dan menselaraskan pembangunan ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan serta upaya penurunan Emisi Gas Rumah Kaca yang dilakukan melalui penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, , instruksi ini tercantum dalam tugas khusus yang diberikan presiden kepada BPN RI isi instruksi ke- tiga item ke empat adalah sebagai berikut :

“Kepala Badan Pertanahan Nasional:

Melakukan penundaan terhadap penerbitan hak-hak atas tanah antara lain hak guna usaha, hak pakai pada areal penggunaan lain berdasarkan Peta Indikatif Penundaan Izin Baru.”

Kenapa Presiden merasa perlu memberikan instruksi khusus kepada BPN RI untuk membantu pelaksanaan instruksi ini, hal ini karena BPN RI mempunyai peran strategis dalam, pelaksanaan INPRES ini,

Namun, peran strategis ini harus dapat dimaknai oleh Instansi ini agar Instruksi yang telah dikeluarkan ini tidak sampai menjadi hambatan. Justru, terbitnya Inpres harus dijadikan moment yang baik untuk meningkatkan kualitas pelayanan pertanahan, karena dengan adanya penundaan ini BPN RI dapat lebih berkonsentrasi terhadap kawasan-kawasan diluar hutan yang selama ini belum ada kejelasan hak-nya, yang memang wilayah kerja BPN selama ini.

Ada sesuatu yang harus di waspadai oleh BPN RI dalam melaksanakan Inpres yang baru saja dikeluarkan, terutama dalam menterjemahkan instruksi yang diberikan, mengenai penundaan pemberian hak pada areal penggunaan lain karena jika tidak dicermati penggunaan kalimat ini mengisyaratkan bahwa ada areal lain yang harus ditunda pemberian alas hak-nya, hal ini menyebabkan mau tidak mau BPN RI tidak dapat melaksanakan sendiri Instruksi ini, BPN RI harus melakukan kerjasama yang baik terhadap pihak-pihak yang menerima instruksi, terutama kerjasama dengan Kementerian Kehutanan yang akan melakukan revisi Peta setiap enam bulan, yang juga melaporkan hasil Inpres ini setiap enam bulan. Oleh karena ini penggunaan kalimat areal penggunaan lain yang menjadi wilayah kerja BPN RI ini harus berdasarkan Peta Indikatif Penundaan Izin Baru yang ada. Tentunya jika dalam melaksanakan tugasnya BPN RI bekerja berdasarkan peta ini maka tidak akan terjadi kesalahan dalam memberikan alas hak kepada masyarakat. Selain ini jika dirasakan memang beban kerja yang yang ada sebelum Inpres menjadi lebih berat dikarenakan selama ini pemberian hak berdasarkan RTRW, maka kebijakan pemberian hak yang diambil tidak lagi hanya mengacu pada Peta RTRW melainkan juga harus mengacu pada Peta Indikatif Penundaan Izin Baru yang akan direvisi terus oleh kementerian Kehutanan, namun alam inpres ini ada ponit yang harus juga dipikirkan mengenai peta ini (Raflis ; 2011)

a) Fungsi kawasan hutan belum ditetapkan oleh Departemen Kehutanan yang ada hanya (Penunjukan Kawasan Hutan atau TGHK),

b) Sedikitnya terdapat 4 versi peta yang menggambarkan tentang fungsi kawasan hutan. diantaranya:

 Peta Pola Ruang Wilayah Nasional (Lampiran VII PP 26 Tahun 2008)

 TGHK/ Penunjukan kawasan hutan

 Peta Rencana Tata Ruang Provinsi

 Peta Rencana Tata Ruang Kabupaten

c) Kekuatan hukum paling tinggi dimiliki oleh PP 26 tahun 2008 dan yang terendah adalah Perda Tata Rencana Ruang Kabupaten

d) Tingkat ketelitian Peta paling baik dimiliki oleh Peta Rencana Tata Ruang Kabupaten dengan skala 1:100.000 dan paling buruk adalah Rencana tata ruang nasional dengan skala 1: 1.000.000.

e) Keempat peta tersebut mempunyai gap yang sangat besar yang tidak pernah disingkronan.

f) Pemerintah belum memiliki peta resmi tentang distribusi dan kedalaman gambut yang dilindungi oleh undang undang.

g) Peta lampiran dilayout dengan sakala 1: 19 juta artinya 1 mm diatas kertas sama dengan 19 km di lapangan. Jika pejabat yang berwenang tidak menaati peta lampiran tidak bisa disalahkan atas pelanggaran tersebut.

Sehingga dalam pelaksanaan kebijakan ini, jika tidak ada kerjasama yang baik antara BPN RI dan pihak Kementerian Kehutanan terkait Peta Indikatif Penundaan Izin Baru, maka hal ini dapat menjadi boomerang yang selama ini ditakutkan oleh pegawai di lingkungan BPN RI, karena BPN RI tidak memegan Peta yang selalu direvisi. Selain itu juga dirasa perlu adanya semacam standart kerja/SPOP yang dikeluarkan terkait kebijakan ini sehingga para pegawai dapat mempunyai prosedur kerja yang jelas, sehingga masyarakat tidak dirugikan karena adanya keragu-raguan dalam penyelesain hak-nya yang masuk dalam Peta Indikatif Penundaan Izin Baru.

Berikut lampiran Inpres 10 tahun 2011 dan Peta Indikatif Penundaan Izin Baru yang pertama. 

Instruksi Presiden No 10 Tahun 2011

perbesar gambar dibawah ini

FIRASAT MAMA (Sebuah Cerpen)


Oleh La Bidu Taking

Ketika cinta jatuh di hatimu, ke mana kamu akan mengadu? Dulu jawabanku hanya satu. Aku akan berlabuh di pelukan mama, membagi getar-getar bahagia yang terkadang membuat gugup. Getar cinta!

Abidzar! Cowok yang pernah hilang dari mataku. Tapi di hatiku tidak! Kini hadir lagi. Berdiri di depanku, mengulurkan tangan untukku. Dan ketika aku sambut uluran itu, suara seraknya melantunkan kata maaf diikuti tatapan mata yang menyiratkan sesal, karena telah meninggalkanku kemarin. Kata hatiku percaya, maaf dan sesal yang dilantunkan Abid itu tulus tapi haruskah kepercayaan itu membuatku kembali ke pelukannya? Kesalahan Abid di masa lalu bukan kesalahan kecil. Dia menghilang begitu saja dari kehidupanku, setelah sebelumnya menyakitiku dengan menduakanku.

Dulu saat Abid pertama datang mengatasnamakan cintanya untukku. Pelarianku adalah mama. Mama seorang! Karena untuk berbagi ke papa adalah mustahil. Hingga usiaku menginjak delapan belas. Aku belum pernah melihat langsung wajah papa. Hanya dalam photo pernikahannya dengan mama!

Saat aku masih kecil, pertanyaanku tentang papa selalu mendapat jawaban yang mengenaskan. Papa mati karena kecelakaan. Dan air mata mama pasti mengalir deras mengiringi kisah itu. Tapi di usiaku yang ke tujuh belas, tahun kemarin! Bertepatan dengan kedatangan Abid untuk kukenalkan pada mama. Mama bercerita lain lagi tentang papa.

“Ini adalah kisah yang sebenarnya. Dan aku pikir kamu memang harus tahu kebenaran itu. Firasatku mengatakan, papa kamu masih hidup. Cuma aku tak tahu dia sekarang di mana,” ucap mama saat itu. Masih lancar, belum ada air mata yang menyendatkan kalimatnya.

“Lalu kenapa nggak pernah menemui mama.” tanyaku langsung.

“Eyang dari papamu tak menginginkan itu. Mama terlahir dari keluarga yang berkubang kemiskinan. Eyangmu yang telah mengalirkan darah biru di kehidupan papa, tak bisa menerima kehadiran mama meski kami telah membuktikan cinta kami dengan pernikahan yang sah setelah lari dari rumah.”

Kurasakan hatiku seperti teriris. Sakit yang kurasakan begitu perih. Lebih perih ketika mama bercerita bahwa papa meninggal dalam kecelakaan.

“Lebih sakit lagi, papamu diseret dari kehidupanku. Bahkan papamu yang memang tak berpendirian tunduk untuk dinikahkan lagi tanpa harus berpikir bagaimana nasibmu yang masih dalam kandungan.”

Air mata mama mengalir lagi. Hingga sepatah kata pun untuk Abid, tak ada! Hingga kemudian mama beranjak ke kamar. Meninggalkan aku dan Abid. Aku tak tahu apa yang ada di benak Abid malam itu. Dia banyak diam, mungkinkah dia kecewa dengan keadaan keluargaku? Entahlah. Yang jelas sejak saat itu Abid berubah drastis. Bahkan berkesan sengaja menggandeng cewek lain di depanku. Sakit sekali!

Dan kini, saat sisa cinta untuk Abid masih selalu meresahkan tidurku, menyiksa hatiku. Abid datang lagi. Jika aku harus mengikuti kata hatiku, itu berarti aku akan menerima kehadiran Abid lagi. Aku masih mencintainya! Tapi, mungkinkah mama menyetujuinya? Mama tahu Abid telah melukaiku. Bahkan pernah berkata, sorot mata Abid mengingatkan dia pada papa dan bukan tak mungkin Abid itu adalah cowok yang tak punya pendirian. Tidak bertanggung jawab seperti papa. Dan firasat mama itu terbukti dengan kenyataan perih yang Abid sodorkan untukku.

Untuk menerima Abid kembali tanpa persetujuan mama rasanya tak mungkin juga aku lakukan. Mama satu-satunya yang menjadi teman curhatku, dan itu sejak aku masih kecil. Mungkin karena aku tak punya saudara dan juga papa yang membuatku bisa menyisihkan sebagian permasalahanku, tanpa harus lari ke mama.

“Ma!” ucapku menyebut namanya. Meski belum berani untuk mengungkapkan keresahanku.

“Aku tahu kamu punya masalah. Firasatku mengatakan begitu. Akhir-akhir ini kamu menyembunyikannya untukku. Atau mama tak bisa lagi dianggap sebagai teman curhat?” ungkap mama membuatku semakin tak tahu harus mulai dari mana untuk bicara tentang Abid.

“Kamu jatuh cinta lagi?” lanjut mama, yang kubalas dengan anggukan.

“Itu tak salah,” ungkapnya lagi. “Tapi kamu harus hati-hati. Jangan sampai kamu harus bertemu lagi dengan cowok bejat seperti Abid. Bukankah dari pertama kamu kenalkan aku pada Abid, aku sudah beranggapan lain tentangnya. Tapi kamu terus membelanya”

Cowok bejat! Abid telah mendapat julukan seperti itu dari mama. Tapi kenapa aku tak bisa mencap Abid seperti itu? Bahkan hatiku terbuka lebar untuk menerima kehadiranya lagi.

“Tapi cinta yang kurasakan kini, Mam! Masih cinta untuk Abid!” ungkapku tanpa berani menatap mama.

Mama langsung berbalik ke arahku. Tapi sedikit pun aku tak bisa berbalik untuk menatapnya. Aku tahu mama kaget dengan kalimatku itu.

“Jika kamu masih mau merasakan luka yang lebih perih dari yang pernah kamu rasakan. Silakan kamu menerimanya kembali.”

“Mama jangan menganggap semua lelaki di dunia ini sama seperti papa. Tahunya hanya membuat luka, mengecewakan!”

“Nia, aku berani cerita jujur tentang papamu yang sebenarnya tidak meninggal dalam kecelakaan dan kemungkinan masih hidup karena melihat sorot mata dan tingkah laku Abid. Dia mengingatkanku pada papamu. Dan firasatku mengatakan jika dia tak ada bedanya dengan papamu. Cowok yang tidak bertanggung jawab!” tegas mama.

Aku terdiam. Seperti yang kuduga, mama tidak akan pernah menyutujui hubunganku lagi dengan Abid. Dan itu berarti, anganku untuk memiliki Abid kembali harus pupus hingga di sini. Aku tak ingin mengecewakan mama dengan tindakan yang tidak disetujuinya. Aku tak ingin melukainya dengan kebahagiaanku. Bagaimana pun mama satu-satunya yang ada dalam kehidupanku selama ini.

Minggu pagi. Aku jalan-jalan ke rumah Abid. Dia yang ngajak, lagi pula aku tak mungkin mengajak Abid ke rumah. Mama pasti tak setuju Abid berkunjung ke rumah

Rumah Abid cukup megah. Tapi berkesan sepi, hanya seorang tukang kebun yang menerima kehadiranku. Itu pun aku harus ditinggal di teras depan saat dia masuk memanggil Abid. Hampir sepuluh menit aku menunggu baru kemudian Abid muncul dengan wajah segarnya. Dia baru saja mandi.

Abid mendesah panjang. Aku tahu, dia sedang berpikir, merangkai kalimat yang tepat untuk meminta jawabanku setelah kemarin dia melantunkan sesal. Aku ikut gelisah, tak tahu harus ngomong apa. Padahal seharusnya aku yang angkat bicara duluan karena jawabanku telah pasti. Aku tak bisa menerima cintanya lagi! Tapi alasanku apa? Aku tak mungkin membawa nama mama dalam persoalan ini meskipun jawaban tentang pertanyaan Abid kudapat dari mama. Atau apa aku harus menolak cinta kedua Abid dengan alasan perbedaan usia antara kami?

Abid memang lebih muda dariku, tapi tidak sampai beda setahun! Dan jika itu yang jadi alasanku, mengapa aku tidak menyodorkannya saat pertama Abid datang mengungkapkan cintanya dulu.

“Kirain kamu nggak datang,” ucapnya juga akhirnya setelah menyadari kami terdiam beberapa menit di teras. “Sori aku di kamar mandi saat kamu datang tadi. Masuk, yuk!”

Kuikuti langkahnya. Tapi sungguh tak kumengerti saat hendak kurapatkan duduk di kursi ruang tamu. Tiba-tiba Abid meraih pergelanganku, mengajakku untuk mengikuti langkahnya lebih ke dalam lagi. Tapi bagaimana mungkin itu kulakukan, aku kan baru berkunjung ke rumah ini. Saat kutepis pegangan Abid, dia tambah mengencangkan genggaman. Lenganku sampai sakit.

Aku teringat mama. Firasat mama tentang Abid yang bejat benar adanya.

“Apa-apan sih!” bentakku meronta hendak melepaskan cengkeraman tangannya.

Dia tak bergeming. Hanya berbalik menatapku dingin. Setelah itu, dia menarik lenganku lagi. Dadaku berdebar kencang. Baru kusesali, mengapa aku tak mendengarkan nasehat mama untuk menjauhi Abid. Firasat mama memang tak pernah salah. Lalu apa yang harus kuperbuat sekarang? Rumah megah ini sepertinya hanya dihuni oleh Abid dan aku. Teriakku hanya percuma.

Di ruang tengah. Abid membuka sebuah kamar lalu menyeretku masuk ke dalamnya. Aku ingin teriak. Meronta! Tapi pemandangan yang kudapatkan di dalam sana membuatku terpaksa mengurungkan niat itu. Di atas spring bed sana terbaring seorang lelaki tua. Kumis dan jenggot tumbuh liar di wajahnya, mata cekung dan tubuh kurusnya berjuntaian kabel-kabel infus. Abid melepaskan cengkeramannya di lenganku. Menghampiri lelaki itu dan entah kenapa, aku mengikuti langkahnya.

Dari matanya tersorot tatapan yang seolah pernah aku dapatkan sebelumnya. dan kalau pun tatapan itu tiada beda dengan tatapan Abid tapi hati kecilku masih yakin, jika aku pernah mendapatkan tatapan itu sebelumnya. Lelaki itu menangis! Juga Abid. Mungkinkah Abid memperkenalkan aku pada papanya sebagai orang yang akan menemani hidup Abid, jika kelak papanya meninggal?

“Nia, dia papaku! Dan harus kamu tahu juga jika lelaki tua ini adalah papamu.”

Seperti sebuah petir menggelegar. Tapi hanya terdengar dalam kamar ini karena cuaca sedang terik di luar sana.

Lelaki tua itu meraih tanganku bahkan menciumnya. Dia mengangguk kemudian sebagai sebuah isyarat agar aku memeluk tubuhnya. Tapi itu tak aku lakukan. Kalau pun dia adalah papaku, bukankah kemarin dia telah menelantarkan hidupku. Melukai mama! Aku ingin berlari keluar, tapi aku tak tahan juga melihat tatapannya yang begitu bahagia seakan melepas semua kerinduannya untukku.

“Sebulan sudah dia mengering di sini,” ungkap Abid menangis.

“Apa peduliku,” ucapku membuat keduanya tersentak. Aku berlari keluar. Tapi saat di luar kamar Abid kembali menggenggam tanganku.

“Dia papamu, Nia! Kamu harus percaya itu.”

“Jika dia adalah papaku, kenapa dia tak pernah mau tahu bagaimana nasibku.”

Abid menatapku tajam. Kedua rahangnya terkatup keras seakan menahan gemuruh emosi yang kini menderanya. Dan memang, semenit kemudian tanpa pernah kuduga dia mendaratkan tamparan kerasnya ke wajahku. Perih sekali!

“Nia, karena kamu dan mamamu. Aku hidup dalam broken home. Papa tak pernah mencintai mamaku. Dia bahkan mengusir mamaku dari rumah ini. Bertahun-tahun dia mencari kamu dan mamamu, tanpa pernah mau tahu ke mana mamaku hidup, setelah dia usir dari rumah ini. Aku menderita karena kamu, Nia! Dan saat sebuah takdir mempertemukan kita dan mendengar semua cerita mamamu. Aku yakin kamulah yang selama ini menjadi bayang-bayang dalam kehidupanku. Dan jangan salahkan jika kemarin aku membalas sakit hatiku dengan melukaimu. Tapi melihat papa yang sakit-sakitan, aku tak tega untuk tidak menemuimu. Dia papamu juga!”

Aku terdiam. Aku ingin berbalik kembali melihat lelaki tua di kamar yang ternyata adalah papaku. Tapi bayangan air mata mama setiap bercerita tentang papa, tak mengijinkan aku untuk itu. Aku bergegas pergi.

“Nia, kamu tega melakukan ini?” ucap Abid menghalang langkahku.

Aku tetap melangkah.

Terus melangkah hingga akhirnya kudapatkan mama di rumah sedang duduk sendiri. Aku yakin, dia berpikir tentangku. Kutata rapi hatiku. Aku tak ingin mama tahu aku habis menemui Abid, apalagi sampai tahu kalau Abid adalah anak papa juga. Aku tak ingin mama terluka lagi.

“Mama melamun, ya?” godaku.

Mama masih diam seolah tak menyaksikan kehadiranku. Bahkan sedetik kemudian kudapatkan air matanya bergulir di pipi. Mungkinkah mama punya firasat kalau aku habis menemui Abid? Aku lebih baik jujur sebelum mama menginterogasiku.

“Maafkan aku, Ma! Aku menemui Abid hanya untuk mengatakan bahwa aku tak bisa menerima kehadirannya lag,” ucapku meraba pundaknya.

“Mama yang salah. Wajah polos Abid mengingatkanku pada papamu. Dan luka masa lalu itu telah membuatku membencinya. Harusnya Abid kujadikan tempat untuk melepaskan rinduku pada papa.”

“Mama rindu pada papa?” tanyaku antusias.

Mama mengangguk. Aku langsung menghambur ke pelukan mama. Tangisku di rumah Abid kini terulang lagi.

“Mama keliru telah membenci papamu, padahal aku tahu dia mencintaiku. Tapi eyangmu yang tak mengijinkan kami untuk bersatu.”

Kulepaskan pelukanku pada mama. Ketika benakku berpikir untuk mengajak mama menemui papa tiba-tiba ponselku berdering. Dan itu dari Abid.

“Papa sekarat. Yah, papa! Kamu mau mengakuinya atau nggak, tapi itulah kenyataan. Dia selalu mengingau menyebut namamu.”

Aku tak bisa bicara apa-apa. Air mataku luruh membayangkan wajah lelaki tua yang baru saja aku sakiti hatinya.

“Dari siapa?” tanya mama melihat diamku.

“Abid.”

“Mendengar nama Abid kali ini seperti memberi firasat pada mama, papamu sekarang sedang tersiksa bahkan mungkin telah meninggal.”

Aku tersentak. Tiba-tiba saja aku tak ingin kehilangan lelaki tua itu. Papaku! Cepat kutarik lengan mama dan mengajaknya ke rumah Abid, meski bibirku belum sanggup bicara tentang papa pada mama. Aku ingin mama tahu dan melihat sendiri apa yang akan terjadi di sana. Dan semoga saja firasat mama kali ini meleset.

Tips Bertahan di Game Perangkaum


SAYA ADA SEDIKIT TRICK BG MEREKA YG MERASA DISERANG DI PERMAINAN PERANGKAUM.NET  MELULU….ATO BG MEREKA YG DIKELILINGI DENGAN MUSUH YG NGAK SEIMBANG (SSSSSSTTTTTT, RAHASIA)

AKTIFIN AJA PENGATURAN – MENU “BERBAGI KONEKSI INTERNET”. KEMUDIAN ISI DENGAN NAMA – NAMA PEMAIN (BUKAN NAMA DESANYA) YG RAJIN FARMING KITA……KLIK OK….

(ASAL DI HARI TSB KITA ONLINE). MAKA, SAAT MEREKA AKAN MENYERANG………

Tindakan – tindakan berikut ini tidak diperkenankan di antara pemain yang berbagi koneksi internet atau komputer selama penggunaan bersama berlangsung dan sampai dengan 24 jam sesudahnya: Serangan terkoordinasi, dukungan atau pengiriman sumber daya termasuk juga tindakan – tindakan yang lain ke akun yang sama.

Alun-alun (tingkat 1)
Alun-alun adalah tempat berkumpul para prajuritmu. Di sini kamu dapat memerintahkan serangan dan memindahkan pasukan.

NICH, hanya trick bertahan. bro ngak akan bisa saling serang dengan pemain yg tlah didaftarin di menu tersebut….
hanya utk konsolidasi, agar pembangunan desa terus berkembang….

Tunggu saatnya……hapus daftarnya…..Counter Attack….Rebut Kejayaan

Semoga trick kecil ini sangat berguna….

REBUT KEJAYAAN DI TANGAN KITA…….

(PELAJARAN INI MASIH BERSIFAT UJI COBA…. NAMUN, NGAK ADA SALAHNYA JIKA TEMAN2 COBA)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 37 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: