TINGKAT KERUSAKAN BANGUNAN AKIBAT GEMPA DAN TSUNAMI DI KOTA BANDA ACEH

MUHARAM BAYU TRI NUGROHO

0399060294

UNIVERSITAS INDONESIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

DEPARTEMEN GEOGRAFI

Depok, 2005

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Fenomena alam yang terjadi di bumi sering menimbulkan bencana bila terjadi dalam skala yang besar dan luas serta menyentuh kehidupan manusia (Tjasyono, 2003).  Lebih jauh dikemukakan bahwa badai guruh, kekeringan, banjir, siklon tropis, gunung meletus, gempa bumi, dan tsunami merupakan fenomena alam yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian material.

Posisi geografis Indonesia yang terletak di zona pertemuan lempeng benua merupakan salah satu faktor penyebab atas sering terjadinya bencana alam gempa bumi.  Ketika terjadi dislokasi di zona pertemuan lempeng ba-wah laut, selain terjadi getaran gempa, perpindahan sejumlah besar massa air laut akibat peristiwa ini juga dapat memicu terjadinya tsunami seperti yang baru terjadi pada akhir tahun 2004 di pantai barat Propinsi Nanggroe Aceh  Darussalam.

Walaupun maraknya peristiwa tsunami di pantai barat Propinsi Nanggroe Aceh  Darussalam, bukan berarti peristiwa tersebut baru kali ini terjadi.  Tsunami terbesar yang tercatat di Indonesia terjadi pada saat Gunung Krakatau meletus pada tanggal 27 Agustus 1883.  Selanjutnya, sejak tahun 1960-an telah tercatat di beberapa lokasi di seluruh Indonesia.  Pada tahun 1965 tsunami telah melanda daerah Seram, Maluku.  Tahun 1967 di pantai Tinambung, Sulawesi Selatan, diikuti pada tahun 1968 di pantai Tam-bu, Sulawesi Tengah, tahun berikutnya di pantai Majene, Sulawesi Selatan  terjadi pada tahun 1969.  Di kepulauan Nusa Tenggara Timur terjadi di pantai Sumba pada tahun 1977 dan di pantai Larantuka pada tahun 1982, sedang-kan di pantai Flores terjadi pada akhir tahun 1992.  Di Jawa Timur, di pantai Banyuwangi juga terjadi tsunami pada tahun 1994.  Pada tahun 1996 terjadi pada dua lokasi, yaitu di Palu (Sulawesi Tengah) dan Pulau Biak (Papua).  Dua tahun berikutnya secara berangsur-angsur terjadi di Pulau Taliabu (Maluku) pada tahun 1998 dan di Banggai (Sulawesi Tengah) yang terjadi pada tahun 2000.

Tsunami yang terjadi dari urutan peristiwa di atas yang terakhir kali-nya yaitu pada tanggal 26 Desember 2004 di pantai barat Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.  Gempa bumi bermagnitudo 9.0 di zona subduksi lempeng sepanjang pesisir barat Aceh hingga kepulauan Andaman dan Nicobar (India) telah memicu terbentuknya gelombang tsunami yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang sangat besar (Bappenas, 2005).  Lebih jauh dilaporkan bahwa korban jiwa yang meninggal akibat peristiwa tersebut adalah sebesar 275.950 orang, dengan estimasi total kerugian material sebe-sar 4,0 hingga 4,5 milyar dolar AS.

Salah satu wilayah yang mengalami kerusakan terparah adalah ibu-kota Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yaitu Kota Banda Aceh.  Kota ter-sebut memiliki jumlah penduduk sebesar 230.774 jiwa (BPS,2004).  Selain jumlah penduduk dan pemukiman yang padat, kota tersebut memiliki ham-paran medan yang datar, sehingga korban jiwa yang diakibatkan pada ben-cana tersebut menunjukkan paling besar (30.000 jiwa) dibandingkan dengan daerah kota/ kabupaten lain di wilayah Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Bakornas, 2005).  Berdasarkan observasi pasca gempa dan tsunami yang dilakukan pada Bulan Januari 2005, diketahui bahwa kerusakan yang terjadi di Kota Banda Aceh sangat parah.

Upaya untuk pemulihan baik melalui rehabilitasi dan rekonstruksi fisik dan infrastruktur wilayah perkotaan tersebut menurut perkiraan yang disebut-kan oleh Bappenas (2005), memerlukan waktu selama 8 tahun. Lebih jauh dikemukakan bahwa upaya pemulihan tersebut paling tidak diperlukan 3 ta-hapan yaitu; (a) tatanan tanggap darurat, yakni pertolongan terhadap korban selamat dan evakuasi terhadap korban meninggal, (b) tatanan rehabilitasi, yakni penyiapan pemulihan sementara dengan membangun permukiman da-rurat, (c) tatanan rekonstruksi, yakni membangun kembali sarana dan prasa-rana perkotaan serta penyiapan permukiman baru. Ketiga tatanan tersebut diawali dengan identifikasi tingkat kerusakan, dan penelusuran kondisi fisik wilayah berdasarkan derajat kerentanannya.

Sebelum peristiwa gempa dan tsunami Desember 2004 lalu, Kota Banda Aceh tengah mempersiapkan diri untuk menjadi kota pelabuhan dan perdagangan utama di Nanggoe Aceh Darussalam.  Hal ini dapat terlihat de-ngan dibangunnya pelabuhan Ulee Lheue yang berstandar internasional se-bagai salah satu penunjang aktivitas ekonomi di kota tersebut.  Untuk mewu-judkan hal tersebut, kajian mengenai kondisi fisik Kota Banda Aceh dan ke-rentanannya terhadap bencana merupakan salah satu hal penting di samping kajian mengenai kondisi sosial dan keamanan.

Mencermati uraian di atas, penelitian ini bermaksud menginformasikan tingkat kerusakan bangunan di Kota Banda Aceh akibat gempa bumi dan tsu-nami berdasarkan beberapa variabel fisik yang diasumsikan memiliki penga-ruh terhadap kerusakan yang terjadi akibat tsunami, yaitu ketinggian, geo-morfologi pantai dan jarak dari pantai.  Informasi tersebut diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan masukan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam kaitannya dengan rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Banda Aceh.

1.2. Masalah

Atas dasar latar belakang seperti yang diuraikan terdahulu, dalam penelitian ini diajukan masalah sebagai berikut :

Bagaimanakah tingkat kerusakan bangunan akibat gempa dan tsunami ber-dasarkan wilayah ketinggian, jarak dari pantai dan menurut unit morfologi pantai di Kota Banda Aceh?

1.3.           Batasan

  1. Daerah penelitian adalah daerah administrasi Kota Banda Aceh yang termasuk dalam rayapan gelombang tsunami.
  2. Gempa bumi adalah getaran yang dirasakan di permukaan bumi akibat adanya sumber getaran di dalam bumi, dan dinyatakan dalam satuan skala richter atau MMI (Modified Mercalli Intensity).
  3. Tsunami adalah serangkaian gelombang laut yang besar yang disebab-kan oleh gempa bawah laut, tanah longsor, atau letusan gunung berapi yang berada di sekitar perairan laut dan atau di dalam laut.
  4. Bangunan menurut UU No.28/2002 adalah wujud bangunan yang disebut gedung, yaitu wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya; sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, difungsikan sebagai tempat manusia melaku-kan kegiatan, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagama-an, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan lainnya.
  5. Bangunan dalam penelitian ini diukur dalam satuan luas (ha).
  6. Kerusakan bangunan akibat gempa dan tsunami pada penelitian ini ada-lah kerusakan yang disebabkan baik itu oleh peristiwa gempa maupun tsunami, yang menyebabkan berkurang atau hilangnya fungsi bangunan.  Bangunan rusak yang diteliti adalah bangunan yang terdapat dalam wila-yah rayapan gelombang tsunami, dengan asumsi bahwa kerusakan ba-ngunan disebabkan oleh kedua peristiwa tersebut.
  7. Tingkat kerusakan bangunan adalah derajat kerusakan yang dialami oleh bangunan akibat gempa dan tsunami menurut klasifikasi Bappenas (2005) yang dimodifikasi.  Bangunan yang mengalami kerusakan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu : (a) Bangunan Rusak Total, yakni bangunan hilang dan posisi awal bangunan tidak dapat dikenali lagi, (b) Bangunan Rusak Berat, yakni bangunan tidak seluruh roboh, struktur bangunan patah, miring, dengan kondisi rusak bercampur dengan puing, dan (c) Bangunan Rusak Ringan, yakni bangunan masih berdiri, terkena endapan lumpur.
  8. Wilayah ketinggian dalam penelitian ini adalah titik-titik ketinggian (eleva-si) yang dibedakan menjadi 4 kelas, yaitu kurang dari 5 m dpl, 5-10 m dpl, 10-15 m dpl dan lebih dari 15 m dpl.
  9. Morfologi pantai atau bentuk medan pantai adalah kenampakan atau relief muka bumi yang menjadi bagian dalam geomorfologi pantai.

10. Jarak dari pantai adalah jarak yang diukur tegak lurus dari garis pantai menuju ke arah daratan.

11. Observasi adalah cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap kondisi eksisting atau fenomena yang ada pada obyek penelitian.

12. Titik observasi lapang adalah titik observasi yang ditentukan secara acak pada wilayah yang mengalami kerusakan.

13. Dokumentasi visual adalah informasi dalam bentuk foto dari titik observasi lapang.

1.4. Metodologi

1.4.1. Variabel dalam penelitian

Variabel dalam penelitian ini meliputi: (a) Tingkat kerusakan bangunan, (b) Wilayah Ketinggian, (c) Jarak dari pantai, dan (d) Morfologi pantai.

1.4.2. Pengumpulan data

Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan dibedakan menjadi dua, yaitu data sekunder dan data primer. Data sekunder adalah data atau infor-masi yang diperoleh dari sumber-sumber baik instansi pemerintah maupun lembaga yang memiliki kewenangan dalam pencatatan atau menginformasi-kan data, sedangkan data primer adalah fakta yang diperoleh dari hasil observasi lapang.

1.4.2.1. Data sekunder

Data sekunder yang dikumpulkan dari instansi atau lembaga terkait meliputi :

(a). Peta, yang meliputi :

  1. Peta wilayah administrasi Kota Banda Aceh skala 1:10.000 bersum-ber dari Bapeda Banda Aceh, tahun 2002.
  2. Peta topografi helai 0236-II Banda Aceh sekala 1:50.000, bersumber dari DITTOP TNI AD Jakarta, tahun 1993.
  3. Digital Elevation Model (DEM) bersumber dari Shuttle Radar Topography Mission (SRTM).
  4. Citra Ikonos Banda Aceh 30 Desember 2004 resolusi 1 m, bersumber dari  http://www.crisp.nus.edu.sg/tsunami/tsunami.html, atas lisensi Centre for Remote Imaging, Sensing and Processing (CRISP) National University of Singapore (Lampiran 15).
  5. Citra Ikonos Banda Aceh 13 Nopember 2003 resolusi 1 m, ber-sumber dari CRISP National University of Singapore.

(b). Data statistik kependudukan dan korban tsunami, yang bersumber dari BPS Kota Banda Aceh Tahun 2004 dan Bakornas Tahun 2005.

(c). Ilustrasi informasi dalam bentuk peta maupun gambar mengenai : (1) peristiwa gempa dan tsunami, (2) geologi dan geomorfologi, (3) fakta wilayah Kota Banda Aceh, dan sebagainya yang dihimpun dari berbagai sumber (terlampir dalam Daftar Pustaka).

1.4.2.2. Data primer

Pendataan lapang (data primer) diperoleh dengan cara pengambilan gambar (potret/foto). Teknik pencuplikan datanya pada titik-titik koordinat yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan citra Ikonos resolusi 1 m2 dengan prosedur sebagai berikut :

(a). Citra Ikonos Kota Banda Aceh dideliniasi berdasarkan rona/warna, ben-tuk, dan ukuran dan dihasilkan 2 kelompok, yaitu wilayah terbangun dan tidak terbangun.

(b). Di wilayah terbangun ditetapkan titik-titik pemotretan sebanyak 30 titik yang mewakili tingkat kerusakan akibat gempa dan tsunami, dengan pertimbangan pada lokasi-lokasi yang dapat dilintasi/dijangkau dengan alat bantu sepeda motor.

(c). Pada setiap titik yang ditetapkan, diambil gambar secara berganda ke empat arah mata angin.

(d). Pada setiap potret yang dikumpulkan, dilakukan interpretasi kondisi kerusakan yang dialami oleh bangunan berdasarkan kriteria kerusakan yang digunakan, kemudian di-plot-kan pada citra Ikonos menurut titik koordinatnya masing-masing.

(e). Penampakan (rona/warna, bentuk, ukuran) yang terlihat pada setiap titik pemotretan yang di-plot pada citra dijadikan sebagai landasan atau acuan dalam melakukan interpretasi citra ikonos untuk membuat peta tingkat kerusakan bangunan akibat tsunami.

1.4.3. Pengolahan data

Data sekunder maupun primer yang telah dikumpulkan dalam penelitian ini diolah ke dalam bentuk peta untuk memudahkan analisa data secara geografis.  Pengolahan data yang dilakukan adalah mengubah data peta maupun citra menjadi data vektor digital untuk memudahkan proses penghitungan jarak dan luas dalam penelitian ini, yang secara skematik digambarkan pada Gambar 1.2, dengan rincian sebagai berikut:

A.  Dijitasi peta administrasi, jaringan jalan dan perairan Kota Banda Aceh, bersumber dari Bapeda Banda Aceh, skala 1:10.000. (Peta 1 dan 2)

B.  Dijitasi peta wilayah ketinggian Kota Banda Aceh yang diolah dari Digital Elevation Model yang bersumber dari Shuttle Radar Topography Mission. Ketinggian dibedakan menjadi 4 kelas, yaitu kurang dari 5 m dpl, 5-10 m dpl, 10-15 m dpl dan lebih dari 15 m dpl (Peta 3).

C.  Dijitasi unit-unit morfologi pantai Kota Banda Aceh melalui interpretasi citra Ikonos dan interpretasi peta topografi dalam mengidentifikasi unit-unit geomorfologi pantai.  Unit geomorfologi yang diidentifikasi adalah barrier island, barrier beach, spit, gosong, laguna, salt marsh, jetty, dan tanggul pantai (Peta 4).  Deliniasi unit-unit morfologi pantai dilakukan dengan menggunakan teknik interpretasi visual, yaitu melalui pengamatan rona, warna, tekstur, bentuk, asosiasi, dan bayangan pada citra Ikonos 2003.  Kemudian dilakukan proses cross checking dengan peta topografi tahun 1993, dengan parameter-parameter identifikasi sebagai berikut:

  1. barrier island merupakan pulau kecil memanjang yang terbentuk oleh endapan pasir gisik dan guguk pasir sejajar dengan daratan yang dipisahkan oleh laguna (Setiyono,1996). Keberadaannya diidentifikasi melalui bentuknya yang sejajar garis pantai dan asosiasi dengan lingkungan sekitarnya, di mana barrier island atau pulau penghalang merupakan endapan yang terpisah dari dataran utama oleh laguna. Kenampakannnya dikenali dengan adanya jembatan yang menghu-bungkan barrier island dengan dataran utama (main land).
  2. barrier beach atau pantai penghalang dicirikan sebagai beting pasir tunggal yang memanjang sejajar garis pantai, dikenali melalui peng-amatan bentuk dan rona/ warna, di mana barrier beach diidentifikasi melalui bentuknya yang pipih dan memanjang, serta melalui keber-adaan pasir yang terlihat pada citra memancarkan warna abu-abu cerah serta bertekstur kasar.
  3. spit diidentifikasi melalui bentuknya yang meliuk menyerupai kait.  Spit biasanya ditemui di muara-muara sungai (Setiyono, 1996), dikenali pada citra Ikonos 2003 melalui bentuknya dan ronanya yang keabu-abuan (endapan pasir) bertekstur kasar. Spit pada umumnya berpang-kal pada dataran utama atau pada barrier island dan barrier beach.
  4. laguna adalah tubuh perairan dangkal di tepi pantai yang dihubung-kan dengan laut oleh alur sempit, atau tubuh perairan laut dangkal yang terletak di antara pulau penghalang atau terumbu penghalang dengan daratan pantai.  Laguna merupakan zona atau daerah berben-tuk kolam yang tidak pernah mengalami kekeringan walaupun pada saat surut rendah. Umumnya Laguna terletak berdekatan dengan daratan pulau dan dikelilingi oleh rataan terumbu serta terlindung dari keadaan fisik laut terbuka (Setiyono, 1996).  Indikator lainnya adalah terdapatnya barrier yang membatasi laguna dengan lautan lepas.
  5. Salt Marsh, atau rawa paya merupakan mintakat pinggiran pantai yang tertutup gambut dan terbentuk pada tingkat pasang tinggi di mana se-belumnya adalah rataan pasang (Setiyono, 1996).  Salt marsh berada di belakang barrier atau penghalang, di mana berair tenang dan biasa-nya ditumbuhi oleh tanaman bakau.  Keberadaan morfologi salt marsh di pesisir Kota Banda Aceh sudah sangat sedikit, karena sebagian be-sar telah dikonversi menjadi tambak dan empang.  Pada citra Ikonos tahun 2003, salt marsh dikenali dengan kenampakan pematang tam-bak/ empang.  Deliniasi dilakukan melalui cross check dengan peta topografi keluaran DITTOP TNI AD tahun 1993, di mana pada peta tersebut dikategorikan sebagai rawa bervegetasi bakau.
  6. Gosong merupakan daratan yang terbangun dari timbunan pecahan terumbu karang berupa pasir dan berada diatas permukaan laut saat pasang surut (Setiyono; 1996).  Gosong dikenali melalui keberadaan vegetasi (warna hijau dengan tekstur kasar) dan biasanya menyatu dengan pematang tambak/ empang.
  7. Tanggul pantai termasuk golongan wilayah endapan yang terbentuk oleh bahan endapan yang dibawa oleh air sungai, dengan proses pengendapan yang dibantu oleh laut dengan arah sejajar arah pantai (Sandy, 1985).  Pada umumnya tanggul pantai terdapat di daerah aluvial dataran rendah, di mana terdapat aliran sungai yang bermuara ke laut.  Bentuk endapan tanggul pantai umumnya digunakan untuk pengelompokan perkampungan.  Dalam mendeliniasi atau menentu-kan tanggul pantai, kenampakan yang menjadi acuan adalah terdapat-nya permukiman di atasnya, yang menunjukkan bahwa daerah terse-but lebih tinggi dari daerah di sekitarnya.  Tanggul pantai umumnya dikelilingi oleh persawahan, tambak ataupun empang.
  8. Jetty adalah bentukan hasil konstruksi buatan manusia yang berfungsi sebagai pemecah ombak dan mengurangi abrasi.  Kenampakannya mudah dikenali melalui bentukan berupa tanggul memanjang yang menjorok ke arah laut, yang terkadang diselingi dengan pasir yang meng-endap di salah satu sisinya.

D. Dijitasi wilayah rayapan gelombang tsunami (Peta 5) dilakukan dengan cara membandingkan kenampakan bangunan dan kondisi tanah (warna, rona, tekstur) pada citra Ikonos sebelum dan sesudah tsunami (2003 dan 2004).  Penarikan garis dilakukan pada batas rayapan tsunami, yaitu batas akhir pertemuan antara endapan lumpur dengan tanah normal. Endapan lumpur tsunami dikenali dengan warna coklat/ hitam dengan rona gelap bertekstur halus.

E. Setelah didapatkan wilayah rayapan gelombang tsunami, maka dilakukan dijitasi bangunan.  Bangunan yang di-dijitasi hanya sebatas yang berada di dalam wilayah rayapan gelombang tsunami (Peta 5).

F.   Plotting titik-titik pengambilan gambar pada peta (Peta 6) dan pada citra Ikonos untuk acuan interpretasi tingkat kerusakan bangunan.

G.  Analisa tingkat kerusakan bangunan dengan membandingkan kondisi bangunan yang nampak pada citra sebelum dan sesudah bencana. Acuan lain yang dipergunakan adalah titik-titik pemotretan seperti telah diutarakan terdahulu.  Tingkat kerusakan dibedakan atas jenis kerusakan yang dialami bangunan berdasarkan hasil modifikasi klasifikasi BAPPENAS (2005) sebagai berikut (Peta 7) :

  1. Bangunan Rusak Total, bangunan hilang dan posisi awal bangunan tidak dapat dikenali lagi.
  2. Bangunan Rusak Berat, bangunan tidak seluruh roboh, struktur ba-ngunan patah, miring, dengan kondisi rusak bercampur dengan puing.
  3. Bangunan Rusak Ringan, bangunan masih berdiri, terdapat endapan lumpur sisa gelombang tsunami.

H.  Melakukan superimpose peta tingkat kerusakan dengan peta wilayah ketinggian dan unit-unit morfologi pantai untuk melakukan analisa deskriptif (Peta 8 dan 9).

I.    Membuat tabel luas tingkat kerusakan berdasarkan wilayah ketinggian dan unit morfologi pantai untuk melakukan analisa deskriptif.

J.   Membuat garis transek pada peta-peta hasil superimpose (Peta 8 dan 9) untuk membuat penampang melintang tingkat kerusakan bangunan ber-dasarkan wilayah ketinggian, unit-unit morfologi pantai dan jarak dari pantai (Gambar 4.1).  Penarikan garis dilakukan secara tegak lurus garis pantai ke arah daratan pada berbagai variasi morfologi dan wilayah ke-tinggian, serta pada jarak rayapan tsunami yang berbeda-beda.

1.4.4. Analisa

Analisa yang dilakukan dalam penelitian ini bersifat deskriptif.  Analisa yang pertama dilakukan yaitu menguraikan kerusakan bangunan akibat tsu-nami berdasarkan tingkat kerusakannya.  Kemudian dilakukan pembahasan peta-peta hasil superimpose (Peta 8 dan 9) yang didukung dengan mengana-lisa tabel luasan tingkat kerusakan bangunan berdasarkan wilayah ketinggian dan geomorfologi pantai.  Pada setiap garis transek dibuat penampang melin-tangnya masing-masing untuk mendeskripsikan bagaimana tingkat kerusak-an bangunan berdasarkan wilayah ketinggian, morfologi pantai, dan jarak dari pantai.  Di sisi lain juga menelaah persamaan dan perbedaan tingkat keru-sakan pada suatu wilayah ketinggian dengan jarak yang berbeda-beda dari garis pantai, atau sebaliknya.

Melalui proses analisis ini diharapkan akan terungkap informasi me-ngenai asosiasi antara tingkat kerusakan bangunan akibat tsunami dengan variabel jarak, wilayah ketinggian dan morfologi pantai di Kota Banda Aceh. Berikut digambarkan alur pikir dan alur kerja dalam penelitian ini (Gambar 1.1 dan 1.2).

Alur Pikir Penelitian

Gambar 1.1. Diagram alur pikir penelitian

Alur Kerja Penelitian

Tingkat Kerusakan Bangunan;

Rusak Total, Rusak Berat dan Rusak Ringan

Gambar 1.2. Diagram alur kerja penelitian

About these ads